Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CNBC Indonesia, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengulas tuntas kesiapan serta langkah progresif Pemkot Bekasi dalam sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN).
Proyek Strategis PSEL Kota Bekasi Dan Fasilitas Ruang Terbuka Hijau
Pemerintah Kota Bekasi terus mematangkan langkah progresif dalam mempercepat proyek pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), yang juga dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Proyek strategis ini dirancang sebagai solusi komprehensif dari hulu ke hilir untuk mengubah permasalahan sampah kota menjadi sumber energi baru sekaligus penggerak ekonomi sirkular.
Hingga saat ini, Pemkot Bekasi telah menyiapkan lahan seluas 6,1 hektar untuk kawasan PSEL, melebihi kewajiban awal sebesar 5 hektar. Lahan tambahan seluas 1,1 hektar dialokasikan secara khusus untuk membangun mini zoo (kebun binatang kecil) dan ruang hutan kota. Fasilitas hijau ini dihadirkan untuk membuktikan kepada publik bahwa operasional PSEL ramah lingkungan, berkelanjutan, dan telah memenuhi kaidah-kaidah kesehatan guna menepis kekhawatiran masyarakat terkait polusi udara.
Anggaran dan Target Infrastruktur Penunjang
Proses pematangan lahan PSEL terus dioptimalkan melalui koordinasi aktif lintas sektoral bersama Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri, Danantara, dan Deputi Kemenko Pangan. Guna menyempurnakan kekurangan anggaran pematangan lahan seluas 2,9 hektar, Pemkot Bekasi melakukan pengalihan anggaran daerah sebesar 25 miliar rupiah, melengkapi alokasi awal sebesar 10 miliar rupiah di tahun 2025.
Proses lelang anggaran ditargetkan selesai sebelum 17 Agustus agar seluruh pekerjaan pendukung dapat berjalan tepat waktu. Peningkatan infrastruktur penunjang pun terus dikebut, salah satunya melalui pelebaran akses jalan dari 6 meter menjadi 12 meter.
Penerapan AI dan Pengolahan FABA untuk Pemberdayaan Lokal
Dari sisi operasional, PSEL Kota Bekasi akan mengadopsi teknologi mutakhir berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada ruang kontrolnya (control room). Pemanfaatan sistem digitalisasi dan AI ini membuat pengawasan serta pelaporan kondisi fasilitas berjalan otomatis secara presisi.
Tri Adhianto menegaskan komitmennya untuk tetap memberdayakan masyarakat setempat. Selain area utama PSEL, disiapkan pula lahan tambahan seluas 2 hektar untuk membangun pabrik pengolahan Fly Ash and Bottom Ash (FABA).
Pabrik ini akan mengolah residu pembakaran sampah yang mencapai 25% setiap harinya menjadi produk turunan seperti batako, bahan semen, pasir kerikil, koral, hingga aspal. Melalui kerja sama dengan pihak pengembang, Pemkot Bekasi memprioritaskan penyerapan sekitar 50 tenaga kerja lokal untuk ditempatkan di sektor pendukung, termasuk sektor pengamanan dan operasional pabrik pengolahan FABA tersebut

