Informasi

Uji Coba Ngantor di RW, Wali Kota Bekasi Siapkan RW 14 Pekayon Jaya Jadi Kampung Pasundan

KOTA BEKASI — Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mulai menguji pola kerja baru dengan berkantor langsung di lingkungan RW. Uji coba pertama dilakukan di RW 14, Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (29/9/2026).

Dalam kunjungan itu, Tri tidak hanya menemui warga. Ia turut membawa sejumlah pejabat teknis Pemkot Bekasi. Cara ini dipilih agar keluhan warga bisa langsung dibahas bersama pihak berwenang.

Keluhan Warga Dibahas Langsung di Lokasi

Sumber: gobekasi.com

Tri membawa jajaran perangkat daerah, termasuk Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA). Camat setempat juga turut hadir mendampingi. Kehadiran pejabat teknis diharapkan membuat persoalan warga tidak berhenti sebatas pembahasan.

Persoalan yang bisa ditangani di tingkat wilayah akan langsung dikerjakan perangkat terkait. Sementara itu, masalah yang lebih kompleks akan dikoordinasikan dengan instansi berwenang. Pola ini rencananya diterapkan secara bergantian di berbagai RW mulai Januari 2027.

Melalui program ini, pemerintah bisa melihat langsung kondisi masyarakat. Warga pun mendapat ruang menyampaikan aspirasi di tingkat lingkungan.

RW 14 Pekayon Disiapkan Jadi Kampung Pasundan

Dalam uji coba pertama berkantor di RW ini, Tri menyiapkan RW 14 Pekayon Jaya menjadi Kampung Tematik Pasundan. Kawasan ini dinilai sudah memiliki nuansa budaya Sunda pada lingkungan dan bangunannya, sehingga pengembangannya akan dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung.

Salah satunya perbaikan akses jalan lewat pengaspalan agar lebih nyaman bagi warga dan pengunjung. Konsep kampung juga akan diperkuat dengan material bambu sebagai bagian dari unsur budaya Sunda, dengan dukungan dari Gubernur Jawa Barat.

Bukan Cuma Budaya, Warga Punya Program Lingkungan

RW 14 juga memiliki potensi lain yang mendukung konsep kampung tematik. Warga terbiasa menanam minimal lima tanaman obat keluarga (TOGA) di setiap rumah. Pemanfaatan lahan bahkan dilakukan hingga ke rooftop rumah warga.

Hasil tanaman biasa dibagikan antarwarga, seperti menukar cabai dengan terong. Kebiasaan ini menunjukkan praktik gotong royong dalam keseharian warga. Bagi Tri, kebiasaan ini bisa menjadi kekuatan pembentuk karakter Kampung Pasundan.

Karena itu, pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan pada tampilan fisik. Kebiasaan dan partisipasi warga juga tetap dipertahankan.

Pengembangan RW 14 menjadi Kampung Pasundan tidak hanya bergantung pada pemerintah. Partisipasi warga tetap menjadi bagian penting dalam prosesnya. Warga berperan menjaga lingkungan, budaya, dan kegiatan yang sudah berjalan selama ini.

Dengan begitu, rencana Kampung Pasundan bukan sekadar mengubah tampilan kawasan. Program ini juga mengembangkan potensi yang sudah dimiliki warga RW 14 sejak awal.

Ditulis oleh Safina