Informasi

Pemkot Bekasi Percepat Pembangunan Fasilitas Teknologi Pirolisis untuk Olah Sampah Lama Jadi Energi di TPA Sumur Batu

Pemerintah Kota Bekasi mempercepat persiapan lahan untuk program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang. Upaya ini akan dibantu oleh teknologi pirolisis yang dinilai efektif untuk mengolah sampah padat.

Regulasi dan Tujuan PSEL

Sebelumnya perlu diketahui bahwa proyek PSEL di Kota Bekasi ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 serta diperkuat melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah. Penetapan ini dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang dapat menghasilkan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap TPA.

Persiapan Lahan dan Pembangunan Fasilitas

Bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Pemkot Bekasi terus melakukan pematangan rencana pembangunan. Pematangan ini mencakup penyediaan lahan, regulasi, perizinan, hingga koordinasi dengan pemerintah pusat. Target peletakan batu pertama (groundbreaking) dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli 2026.

Pelaksana Harian Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe telah menginstruksikan sejumlah perangkat daerah terkait untuk mempersiapkan lahan untuk membangun fasilitas pengolahan sampah tersebut. Hal ini dilakukan karena Kota Bekasi terpilih menjadi pilot project nasional dalam penerapan teknologi pirolisis.

Mendukung pembangunan tersebut, Pemkot Bekasi menyiapkan lahan seluas 5 hektare di sekitar TPA Sumur Batu. Saat ini, sekitar 4 hektare lahan telah tersedia. Selain fasilitas pengolahan, pemerintah juga menyiapkan pelebaran akses jalan menuju kawasan PSEL sekitar sepanjang 700 meter. Infrastruktur pelebaran jalan diperlukan untuk mendukung mobilitas kendaraan operasional dan memperlancar aktivitas pengangkutan sampah.

Apa Itu Teknologi Pirolisis

Teknologi pirolisis dipilih karena mampu mengolah sampah padat melalui pemanasan bersuhu tinggi dengan kadar oksigen yang sangat rendah. Pirolisis dapat menghasilkan tiga bentuk energi terbarukan meliputi bahan bakar cair, gas sintesis, serta residu padat yang masih memiliki nilai manfaat.

Penggunaan teknologi pirolisis berbeda dengan PSEL. PSEL menangani sampah sampah harian masyarakat, sedangkan pirolisis menangani timbunan sampah lama. Perbedaan ini diyakini dapat mempercepat pengurangan timbunan sampah, sehingga kawasan tersebut dapat pulih dari krisis volume sampah.

Sejarah Baru Ketahanan Energi

Keberhasilan proyek ini tidak hanya mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga mencetak sejarah baru dalam ketahanan energi daerah yang mandiri. Penerapan teknologi pirolisis sebagai pelengkap PSEL akan menjadi inovasi pengolahan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Inovasi ini dapat berperan sebagai solusi jangka panjang dalam mengatasi sampah di Kota Bekasi.

Ditulis oleh Deviana