Inspirasi

Kunjungi Kafe Inklusif, Ini Sederet Perhatian Wali Kota Bekasi untuk Penyandang Disabilitas

KOTA BEKASI – Perhatian terhadap penyandang disabilitas menjadi salah satu hal yang didorong Wali Kota Bekasi Tri Adhianto. Mulai dari membuka akses kerja, mendukung usaha, memperluas pendidikan, hingga pembinaan olahraga, sejumlah program diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif di Kota Bekasi.

Salah satu bentuk inklusivitas dapat dilihat dari keberadaan kafe yang membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Kafe tersebut bernama MI-Caf (Mini Cafe) 13% yang berlokasi berada di Jalan Pahlawan No. 7, Duren Jaya, Bekasi Timur. Kafe ini menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk bekerja, belajar, dan mengembangkan keterampilan secara mandiri.

Kafe Inklusif Jadi Contoh Kesempatan Kerja

MI-Caf 13% merupakan usaha kuliner yang digagas oleh Dika, penyandang disabilitas berusia 21 tahun. Melalui usaha tersebut, Dika tidak hanya menjalankan bisnis, tetapi juga membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas lainnya untuk belajar dan bekerja bersama.

Tri mengapresiasi keberadaan MI-Caf 13% karena dinilai menunjukkan bahwa penyandang disabilitas dapat berkontribusi ketika mendapatkan kesempatan.

“MI-Caf 13% membuktikan, ketika diberi kesempatan, penyandang disabilitas bisa berkontribusi nyata. Mereka belajar kerja, melayani pelanggan, dan mengasah keterampilan untuk masuk dunia kerja yang lebih luas,” ujar Tri pada Rabu (23/9/2026).

Dorong Dunia Usaha Buka Rekrutmen Formal

Dari kunjungannya ke MI-Caf 13%, Tri mendorong agar kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas tidak hanya datang dari UMKM. Tri meminta perusahaan, industri, dan perkantoran di Kota Bekasi ikut membuka kesempatan kerja formal bagi penyandang disabilitas.

Menurutnya, proses rekrutmen perlu melihat kemampuan dan kesesuaian calon pekerja. Perusahaan juga perlu menyediakan lingkungan kerja yang mudah diakses sehingga pekerja disabilitas dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik.

“Penyandang disabilitas punya kemampuan dan potensi. Saya mendorong dunia usaha membuka kesempatan lebih luas di sektor formal. Beri ruang dan lingkungan kerja yang mendukung, agar mereka bisa menunjukkan kemampuan dan mandiri,” katanya.

Perluas Akses Pendidikan

Sumber: Tempo.co

Perhatian terhadap penyandang disabilitas juga diarahkan ke sektor pendidikan. Pemkot Bekasi mendorong pembangunan sekolah ramah disabilitas di setiap kecamatan agar akses pendidikan semakin merata.

Berdasarkan Data Kemendikdasmen, per 24 September 2026 terdapat sebanyak 1.415 peserta didik berkebutuhan khusus tersebar di 12 kecamatan Kota Bekasi. Jumlah terbanyak berada di Bekasi Timur dengan 412 siswa, disusul Bekasi Selatan 157 siswa, serta Pondok gede dan Medan Satria masing-masing 155 siswa.

Upaya tersebut didukung pembentukan Unit Layanan Disabilitas pada Dinas Pendidikan Kota Bekasi melalui Keputusan Wali Kota Bekasi Nomor 439 Tahun 2024. Layanan ini diharapkan dapat memperluas akses pendidikan sesuai kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.

Dukung UMKM dan Pelatihan Disabilitas

Sumber: jendelanusantara

Di bidang ekonomi, Wali Kota Bekasi mendorong kemandirian penyandang disabilitas melalui pengembangan UMKM. Pemkot Bekasi melakukan pendataan UMKM milik penyandang disabilitas untuk membuka akses terhadap program pengembangan usaha dan pemasaran. Salah satunya melalui Selasa Ceria.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan dan mengenalkan produknya secara langsung kepada masyarakat. Bagi pelaku usaha disabilitas, kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar sekaligus mengembangkan kemandirian ekonomi.

Beri Perhatian pada Atlet Disabilitas

Sumber: tribunnews

Bidang olahraga juga menjadi bagian dari perhatian Pemkot Bekasi. Pembinaan dilakukan bersama National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) untuk mendukung atlet-atlet penyandang disabilitas.

Dalam sumber yang diberikan, Pemkot Bekasi juga disebut memberikan bonus penghargaan hingga Rp30 juta bagi atlet berprestasi peraih medali emas.

Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa isu disabilitas tidak hanya ditempatkan pada satu sektor. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, usaha, hingga olahraga, akses bagi penyandang disabilitas didorong untuk semakin terbuka.

Tri menekankan, upaya tersebut membutuhkan kerja sama pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas.

“Target kita ekosistem inklusif. Akses pendidikan, pelatihan, pekerjaan, dan usaha harus semakin terbuka agar penyandang disabilitas bisa menentukan masa depannya sendiri,” ujar Tri.

Ditulis oleh Safina